Menunggu Kejutan (Lagi)

1 comment
Tak terasa sudah di penghujung bulan Oktober. Masih teringat bulan ini dimana saya baru saja menyelesaikan sebuah misi selama di Pare –meskipun masih cukup banyak materi yang perlu dipelajari—and finally, I have to comeback to the reality and prepare for my real test for the next few months. Jadi sebenarnya peer pressure juga ketika teman-teman lain sudah real test semua, dan akhirnya mau ga mau juga harus menghadapi si real test ini, yang biayanya hampir sama dengan harga tiket pesawat PP ke rumah. *curhat*

Hari-hari terakhir kemarin di Pare banyak dihabiskan di warung kopi Pak Dur, tempat favorit untuk mereka yang ingin melepas penat, menyeruput kopi asli yang pas dikantong, untuk sekedar berdiskusi santai, brainstorming soal-soal writing, latihan speaking, dan juga mungkin meratapi nasib saat score writing yang masih begitu-begitu saja. Sudah hampir dua bulan ini menikmati makanan murah, seperti nasi pecel lima ribuan yang sudah lengkap dengan kerupuk peyeknya, dan juga nasi kuning ibu belakang –walaupun sering tutup –yang super enak dengan porsi yang mantap. Ah, jadi teringat masa-masa awal belajar dari pagi sampai malam, lari pagi ke car free day, bermain dengan kucing kesayangan (kimchi), berburu STMJ di pinggir jalan sudirman, dan duduk santai di warung tansu menunggu maghrib tiba.


once upon a time in Pare

Ini ngapain (?)
Jakarta Lagi

Pada akhirnya, masa-masa belajar dan romantisme selama di Pare juga harus berakhir. Saat teman-teman lain juga sudah mulai melanjutkan perjalanan ke tempat perjuangannya masing-masing, saya juga harus kembali menghadapi realita: kembali ke Jakarta. Selain ada undangan wawancara di salah satu accelerator untuk social enterprise startups, saya juga harus membantu melunasi janji membantu bisnis salah satu koperasi di daerah Cibubur, Jakarta Timur, dan mungkin akan menetap disana. Pindah ke timur untuk sementara seperti kejutan bagi saya, dan mengajarkan saya untuk selalu siap dan membiasakan diri dengan kejutan-kejutan dalam hidup. Kita tidak pernah tahu akan kemana lagi kita digerakkan Allah untuk tinggal, yang penting kita sudah merencanakan sebaik mungkin dan selalu ikhlas menerima pilihanNya.

Dan kini, setelah dua bulan setiap hari melihat hamparan sawah-sawah dan tingginya pohon-pohon tebu di Pare, telah berganti dengan pemandangan tingginya gedung-gedung komersial di Jakarta. Sebuah perbedaan yang cukup dijadikan alasan untuk merasakan culture shock lagi. Saat terbiasa dengan makanan murah, kini harus terbiasa dengan harga2 dua kali lipatnya. Harus terbiasa lagi bermacet-macetan ria, dan membagi fokus untuk kerjaan dan mempersiapkan aplikasi untuk studi selanjutnya.

Di hari terakhir bulan oktober ini, sudah genap dua minggu saya menjadi warga cibubur untuk sementara, yang lokasinya alhamdulillah agak jauh dari pusat kota. Lokasi yang tidak begitu jauh dari Bogor, jadi hawa-hawa dingin agak kebawa sedikit. Oh  ya, seminggu terakhir ada beberapa hal yang terjadi, pertama, alhamdulillah Komunitas Arsa Jakarta sukses bikin event Sharing and Fun Educating (SAF) pertamanya di Purwakarta.  Volunteernya rame, anak-anaknya antusias dan insya Allah dampaknya positif untuk anak-anak disana. Kedua, kemarin di undang ke Istana Bogor untuk menghadiri acara sumpah pemuda bareng founder-founder startup seperti GO-Jek, Ruangguru, Tokopedia, Bukalapak, dll. Ketemu pak Jokowi, dan juga anak-anak muda keren yang berprestasi di bidangnya, yang kadang bikin minder juga. Bagaikan butiran debu hehe. Alhamdulillah kemarin itu bisa mewakili Balasjasa, startup yang baru saja dirintis untuk mebantu koperasi di Indonesia punya sistem keuangan sendiri yang modern, reliable, berdasarkan prinsip koperasi dan tentunya affordable bahkan free.  Doakan semoga rencana ini berjalan lancar. Aaamin.


Sharing and Fun Educating #1, Komunitas Arsa Jakarta

Yap, begitulah sedikit cerita sebulan terakhir. Sekali lagi, kita harus siap dengan kejutan-kejuatan baru dalam hidup kita. There are thousand opportunities out there, you have to prepare yourself to take the opportunities because it will come to the most prepared person ;)



Meet Ahmad Zaky, CEO and Founder Bukalapak at Bogor Palace

#newjourney
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.