After Ten Years

Leave a Comment
I’ve just realized that I haven’t write anything to this personal blog on the last month, June. Ya, padahal rencananya minimal harus nge-post at least satu tulisan setiap bulannya. Entah mungkin karena terlalu semangat berkegiatan dibulan Ramadhan kemarin atau sebenernya cuma alasan semata karena dasarnya memang sudah mulai malas menulis hehehe. Padahal kerjaan apapun tidak seharusnya dijadikan alasan pembenaran untuk tidak melakukan sesuatu. Harus belajar lagi soal konsep disiplin yang sebenarnya. Kalau kata Pandji Pragiwaksono, disiplin itu bukan untuk mengekang tapi sebaliknya disiplin malah akan membebaskan kita. Setuju banget. Tapi, I have to admit that distraction untuk nulis saat2 sekarang jaaaaauh lebih banyak dibanding dulu. #alesan 

Oke intro yang tidak nyambung dan tidak penting diatas itu sebenarnya adalah pembuka untuk cerita saya kali ini, cerita tentang bulan puasa yang tahun ini masih berada di kampung orang (lagi), tentang perjalanan ‘pulang’ dan beberapa perjalanan lain yang saya lakukan selama dirumah. Hal yang alhamdulillah bisa saya lakukan rutin setiap tahunnya dalam 5 tahun terakhir, sebuah nikmat yang Allah kasih yang seringkali saya tidak sadari dan lupakan :( Bayangkan, tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk merasakan perjalanan yang kita sebut ‘pulang’ ini.

Cerita bulan puasa saya kali ini agak sedikit berbeda karena disaat bersamaan ada tugas dan tanggung jawab sebagai karyawan. Sebenernya tidak begitu jauh berbeda dengan tahun lalu, dimana ada tanggung jawab skripsi, bahkan pressure nya lebih parah dulu. Soal menu sahur, juga tidak banyak  berubah, tidak jauh-jauh dari menu warteg, atau mie instan kalau lagi darurat, karena masih berstatus sama sebagai anak kosan. Yang mungkin agak berbeda adalah suasananya, yang menemani makan sahur dan buka puasa juga beda lagi. Dulu di nangor ada alarm handphone yang bangunin sahur, sekarang ada mereka anak-anak kecil yang tiap jam 3 pagi teriak teriak “sahur, sahur, bangun!” sambil mukul-mukulin ember, keliling bangunin orang disekitar kosan yang sekarang. Bedanya lagi shalat tarawih di sebagian masjid Jakarta yang agak berbeda ‘ritual’ nya, dan ada juga yang punya express mode dimana tarawihnya bisa diselesaikan hanya dalam 10 menit.  Subhanallah.

Di awal-awal puasa, saya banyak merasakan yang namanya pertolongan Allah, yang memang dekat banget sama kita, entah kita minta atau tidak. Saya masih ingat waktu itu pas lagi tanggal tua, bingung mau buka puasa dengan apa, eh Masya Allah ada babeh kosan yang baik hati (thanks to babeh) ngasih kolak pisang kekamar, terus besoknya –mungkin berkah ramadhan juga –selalu ada aja yang ngasih takjil untuk buka puasa. Makin yakin deh kalau sebenarnya Allah itu selalu dengar doa kita, selalu jawab doa kita. Mungkin kita terlalu cepat berburuk sangka.

Puasa kali ini juga godaannya cukup menantang, karena mostly orang-orang dikantor adalah non-muslim yang berarti tidak puasa, yang artinya catering makan siang tetap ada! hahaha makanya kalau sudah waktunya jam makan siang saya langsung kabur ke masjid didepan kantor, kecuali lagi pengen sosoan kuat bertahan dimeja kerja dan menahan godaan bau masakan catering yang menggugah hahaha. Tapi adalah lemah jika kita menjauhi bau masakan dan orang yang lagi makan hanya karena kita berpuasa, itu tandanya iman kita masih lemah. Makanya saya agak tersinggung kalau dijalan melihat warteg-warteg menutup warungnya dengan kain, yang menandakan mereka meremehkan iman saya hehe.

A place that I called Home

Untungnya tidak sebulan penuh menjalani puasa dikampung orang, seminggu sebelum lebaran saya ambil cuti untuk pulang lebih awal kerumah. Karena you know, tiketnya akan selalu lebih mahal jika mendekati hari raya idul fitri. Momen pulang seperti ini selalu ditunggu setiap orang. Kesempatan langka untuk kembali berkumpul dengan keluarga dirumah, bersilaturahmi dengan guru dan teman lama.  Dan tahun ini agak special, karena saat pulang kemarin, selain jalan-jalan ke tempat baru, saya bisa bersilatuhrami dengan teman-teman SD yang hampir 10 tahun tidak ketemu dalam sebuah acara buka bersama. Walaupun tidak lengkap, setidaknya saya masih bisa tahu kesibukan dan bagaimana kehidupan beberapa teman kecil saya sekarang, siapa tau bisa berkolaborasi bersama.

The view from Home

Waktu yang berharga dirumah tidak boleh disia-siakan begitu saja. Terkadang godaan untuk berlama lama tidur dikamar tidak bisa dihindari. Apalagi cuaca kota Palu yang terkadang membuat malas beraktivitas diluar. Selain buka bersama dengan teman-teman lama, terkadang saya harus menjadi supir pribadi Ibu kalau doi sudah minta diantar ke Pasar, berkunjung rumah saudara atau sekedar jalan-jalan. Permintaan yang entah kenapa membuat saya senang karena ada kesempatan untuk menyenangkan Ibu. Momen ngobrol berdua yang tidak akan saya sia-siakan. 

Momen lebaran kemarin juga saya menyempatkan diri untuk bersilaturahmi dengan guru-guru SD kami, bersama teman-teman angkatan 2000 di SDN Inpres Tondo. Guru-guru yang sulit kami lupakan karena jasanya yang sudah membentuk kami sampai seperti saat ini. Wajah ‘surprise’ dan bahagia mereka masih terbayang saat mengetahui dikunjungi mantan muridnya yang hampir 10 tahun tidak pernah berjumpa. Dalam pertemuan ini, guru matematika kami dulu ‘curhat’ tentang muridnya yang sekarang dan membandingkan dengan kami dulu, menurutnya banyak perbedaan baik itu sikap dan kepintaran. Sekarang anak-anak lebih susah fokus, dan suka membantah guru. Sebuah realita yang miris dan memprihatinkan. Oh ya bicara soal guru SD, bagi saya, Pak Amiruddin, guru Agama Islam saya dulu adalah guru yang mungkin tidak akan pernah saya lupakan dalam hidup.  Saya merasa berhutang budi secara khusus dengan pak Amir karena dulu dialah yang menolong dan membantu saya saat insiden ‘sulap koin’ di kelas 4. Hehehe, thanks pak, semoga Allah membalas semua kebaikanmu,  Aamin.

Pak Amir, my hero

Rano Bungi, Pusat Laut

Setelah bersilaturahmi dihari raya, saatnya untuk liburan. Dua nama tempat diatas adalah beberapa tempat yang menjadi tujuan saya kemarin, tempat wisata yang cukup lama hits di kota Palu. Yang lagi happening baru baru ini adalah Rano Bungi yang berada di kabupaten Sigi. Saya sempat berkunjung kesana dan I admit that the view memang kece. Perpaduan rawa-rawa dan danau yang tenang, juga tampak gunung gawalise yang berdiri gagah dibagian barat. Saat kesana, langit sudah menjelang gelap, matahari sebentar lagi meninggalkan peraduannya, jadilah kami sekalian menikmati atraksi sunset sore itu, ditambah waktu itu memang hanya kami bertiga yang berada disana, jadi berasa lebih tenang dan damai.

Satu tempat lagi adalah pusat laut yang berada di kabupaten Donggala, tempat wisata yang sudah cukup lama ingin dikunjungi. Disini kita bisa melihat sebuah sumur raksasa dengan diameter kurang lebih 10meter dengan air berwarna biru (atau hijau?). Saya dan teman mampir kesini setelah mengunjungi pantai kaluku yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat laut. Jadilah saya mencoba melompat dari ketinggian sekitar 5 meter. Saya termasuk cupu kalau dibandingkan bocah bocah asli sini yang melompat dari tempat yang lebih tinggi dan dengan gaya salto yang bervariasi. Kalau berkunjung ke Donggala jangan sampai kelewatan untuk mengunjungi tempat wisata ini.

Pusat laut, sorry for the kabur picture
Oh ya, karena kebetulan saya pulang di bulan Juni-Juli dimana saat itu didaerah Pantai timur dan barat Sulawesi Tengah sedang dikaruniai musim durian! Karena alasan inilah kemudian saya dan teman SD lagi memutuskan pergi ke parigi untuk berburu durian. Di perjalanan kami sempat bertemu dengan segerombolan monyet liar berwarna hitam yang begitu santainya menyantap pisang dari orang-orang yang kebetulan lewat jalur kebun kopi. Kami juga berfoto ditempat yang baru saja hits disana: Kilometer 11. Tempatnya agak berisiko karena pijakan kaki untuk berfoto disini agak goyang. But, I appreciate kreatifitas orang atau warung yang membuat tempat ini pertama kali, walaupun menurut saya tiket masuk nya agak mahal, 5 ribu per 3 menit. Kalau bisa sih mending dihilangkan saja, buat free biar makin rame, hehehe.

Kilometer 11, foto sejuta umat

Itulah cerita tentang pulang dan liburan singkat saya dibulan lalu. Dan saatnya kembali ke Jakarta dan bekerja lagi, dengan rutinitas yang masih sama. But, I have another plan yang mungkin akan saya pertimbangkan lagi ditahun ini. Two days ago, I turn older dan berasa semakin tua. Semoga ditahun ini I can be better and can separate myself from destructive thoughts. Bisa terus belajar dan bermanfaat bagi banyak orang. Aamin.

Btw, hari ini, 12 Juli 2017 adalah hari koperasi nasional yang ke 70. Sudah cukup tua ya. Katanya juga di Makassar sedang dilaksanakan Kongres Koperasi ke 3, semoga hasilnya bisa membawa koperasi semakin maju dan berdaya saing, dan tentunya bisa kembali ke cita-cita awalnya, sebagaimana dulu bung Hatta dan peggiat koperasi pertama kali merumuskannya. Semoga.

#turn23
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.