Masih Startup

Leave a Comment

Happy new yeaarr everybodeeeh! hahaha udah telat banget yaa. Ga kerasa bulan pertama di 2017 ini sebentar lagi usai. Btw, I'm surprised that my blog ternyata sudah berumur 7 tahun! Luar biasa hahaha. Okay, kali ini pengen nulis sesuatu, tulisan pertama di tahun 2017. Banyak hal yang terjadi di tahun sebelumnya dan ada beberapa kejadian yang menjadi turning back point (lagi) dalam hidup saya. Tahun dimana saya berhasil menyelesaikan studi di perguruan tinggi dan mendapatkan pekerjaan pertama (yang sangat-sangat menyenangkan). Tahun dimana saya memulai kembali perjalanan hidup di Ibukota dengan harapan dan mimpi baru, dan merasakan Jakarta lebih dekat. Thank you 2016, thanks for the lesson and thanks for the sweet memories. Ada juga beberapa hal yang menjadi catatan pribadi yang perlu diperbaiki, sekaligus tetap mempertahankan yang sudah ada. Layaknya sebuah gelas berisi air, akan sulit untuk memasukkan air kedalamnya jika tidak dikosongkan terlebih dahulu. Ketika kita merasa sudah tidak perlu belajar lagi, dan merasa kita sudah tahu semuanya, berhati-hatilah ketika kesombongan itu ada dalam hati kita. This is a self reminder for me.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, saya (dan kemungkinan sebagian besar orang) harus siap merasakan sulitnya membuat sebuah keputusan besar setelah lulus kuliah. Setelah kurang lebih 3 bulan terakhir menjalani kehidupan yang saya pilih ini, saya terkadang berpikir apakah ini benar-benar keputusan yang saya inginkan. Atau sebenarnya hanya karena menuruti ego semata. Saya kembali memilih untuk bekerja disini, dan mengesampingkan pilihan masuk akal lain, seperti misalnya kembali ke kampung halaman, dan mengelola bisnis keluarga. Beberapa kali my parents asked me to do that, tapi bagi saya saat ini waktunya belum tepat. My knowledge and experience saya rasa masih kurang. Akan tiba waktunya, dan tidak untuk saat ini. 

Dalam 3 bulan tinggal di Jakarta, saya mulai sadar ada budaya tergesa-gesa dan individualisme yang mulai kental pada masyarakatnya. Jika ada orang di halte Transjakarta yang berjalan santai dan tersenggol orang-orang yang terburu-buru, kemungkinan besar ia baru datang ke Ibukota. Budaya tergesa-gesa ini membuat Jakarta seperti tidak peduli lagi dengan sekitarnya. Satu kejadian yang masih segar diingatan saya, saat suatu malam akan pulang kekosan menggunakan Transjakarta, secara tiba-tiba mas kondektur nya terjatuh dari dalam bus karena pintu otomatis yang tiba-tiba terbuka, membuat penumpang berteriak-teriak. Untungnya mas nya selamat. Yang membuat saya heran adalah saat itu banyak mata yang menyaksikan dan hanya sekedar menonton mas kondektur yang sedang terluka parah. Hanya saat seorang penumpang berinisiatif memanggil bajaj akhirnya mas nya dibawa ke RS terdekat. Apakah individualisme ini membuat warga Jakarta kehilangan rasa kemanusiaan? entahlah. Jangan kaget jika di Transjakarta melihat bapak tua renta atau ibu-ibu yang harusnya mendapat kursi prioritas harus berdiri begitu lama karena orang-orang yang duduk berpura-pura tidur, atau berpura-pura tidak tahu dengan earphone terpasang di telinga. -__-

In the west for a while

Kerjaan baru di tahun baru membuat saya menjadi 'anak barat' untuk beberapa waktu kedepan. Offering letter dari sebuah startup yang berkantor di Jakarta Barat yang membawa saya menjadi 'anak barat'. Jadilah my routine in the morning kaya gini : berangkat pagi-pagi dari kosan di timur mengejar agar tidak terlambat untuk sampai di kantor di barat. Ujung ke ujung hahaha. But I enjoyed the process sambil menyesuaikan diri dengan padatnya kawasan daan mogot. Pemukiman padat, sungai berwarna pekat hitam dan jalanan yang penuh klakson kemarahan menjadi makanan saya sehari-sehari. Halte taman kota dan kadang2 halte kedoya is my favorit place right now haha.

Selain kantor yang kejauhan, suasana kantor yang berbeda 180 derajat dari kantor sebelumnya di selatan membuat saya (lagi-lagi) harus beradaptasi. Dari yang biasanya satu meja bersama kini harus berada di meja sendirian dan mengimbangi co-workers yang sangat dinamis. Bagi yang kerja atau pernah bekerja di startup company, mungkin mengerti 'dinamis' seperti apa yang saya maksud. Rekan-rekan developer yang datang ke kantor dengan celana pendek dan sendal jepit menjadi pemandangan biasa disini. Di pojok-pojok ruangan, tempat bermain selalu mudah ditemukan, kursi dan bantal empuk lengkap dengan gitar dan mesin penyeduh kopi yang memanjakan karyawan. Tapi jangan kira tempat itu ramai setiap saat, karena saat office hour tempat ini kosong melompong. Just because you work in a startup', it doesn't mean you can work seenak jidat. Tetp aja profesionalitas menjadi kunci untuk startup bisa naik kelas. 

So, berkantor di Barat dengan jam kantor yang ketat (9-6), kini saya mulai sadar kenapa warga kantoran jakarta tetap semangat berjibaku dengan kemacetan setiap hari untuk menuju kantor. Mereka mungkin sudah tahu dan benci dengan kemacetan, tapi tetap tidak ada pilihan selain menghadapi macet setiap hari. Bagaikan makan sambel, sudah tahu pedas tapi tetap saja ketagihan. Mungkin syndrome ini mulai menyerang saya juga. Apapun itu, jalani saja. Let it flow, kaya iklan minuman teh yang banyak di tv-tv.

Sampai jumpa lagi.




Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.