Berdamai dengan Skripsi



Entah kenapa ada perasaan sedih ketika akan menulis ini. Tiba-tiba galau. Niat awalnya sebenarnya hanya ingin berbagi sedikit tentang bagaimana rasanya duduk di semester akhir, hidup dengan bayang-bayang makhluk bernama skripsi, yang baru mendengar namanya saja sudah bikin galau tingkat tinggi. Hidup dimana bangun setiap pagi yang terpikir pertama kali adalah beberapa dokumen dalam folder bernama "UP" atau "Skripshit" atau "Skipsweet" yang namanya biasanya suka diganti-ganti tergantung mood, atau biasanya yang terlintas pertama kali adalah wajah pak dosen pembimbing yang tiba-tiba muncul di kepala seakan punya ikatan batin dengan mahasiswa nya.  Biasanya di tahap-tahap akhir seperti ini, yang bisa dilakukan adalah mengikuti dan mengiyakan semua apa kata dosen pembimbing, jangan coba-coba mengelak kalau memang benar-benar mau lulus segera :’)
Di kampus tercinta ini, untuk menyudahi status sebagai mahasiswa, ada tiga tahapan yang harus dilewati –yang mungkin juga kurang lebih sama dengan sistem di universitas-universitas lain –dimana ketiga tahap itu adalah:

1.       Usulan Penelitian; Ini adalah tahap pertama yang harus diselesaikan sebelum membuat skripsi, biasanya disebut juga proposal skripsi. Jadi ditahap ini kita diharuskan membuat rencana penelitian kita, mulai dari judul, latar belakang, fenomena dan masalahnya harus benar-benar jelas. Tahap membuat UP ini cukup menguras emosi dan tenaga, tantangannya macam-macam, mulai dari kesulitan menemukan tempat penelitian, revisi hampir di setiap halaman, bingung menentukan operasionalisasi variabel, tergoda dengan teman-teman lain yang sudah seminar, sampai kesulitan bertemu dosen pembimbing yang setiap hari selalu saja ada urusan diluar kampus. Semuanya membutuhkan kesabaran dan terkadang ‘muka tebal’ untuk melewati fase ini. Tapi percayalah, setelah Seminar Usulan Penelitian (seminar proposal) selesai dilaksanakan, perasaaan akan sedikit lebih lega, walaupun tidak bisa berlama-lama karena tugas selanjutnya tidak kalah beratnya. 
2.       Kolokium;Di kampus Ikopin, tahap kedua setelah seminar UP selesai adalah mempertanggungjawabkan hasil dan pembahasan penelitian dilapangan dalam satu sidang yang bernama sidang kolokium. Berbeda dengan seminar UP yang bisa ditonton oleh teman-teman –yang bisa kita titipkan pertanyaan –disini kita hanya berhadapan dengan dua dosen penguji dan dosen pembimbing kita. Saya sendiri belum merasakan atmosfer berada di ruang sidang kolokium, masih on progress haha. Doakan saja bisa lebih cepat untuk sidang kolo! Amin :) 
3.       Sidang;
One step closer to get your degree. Ini tahap terakhir yang katanya lebih menegangkan dari dua tahap sebelumnya. Disini penentuan apakah kita layak menyandang gelar Sarjana atau tidak. Agak mengerikan memang membayangkannya.
  

Nah, ada ciri khusus dikampus ini dalam penelitian skripsi mahasiswanya, yaitu objek penelitian haruslah di sebuah Koperasi. Iyalah namanya juga kampus koperasi. Tapi boleh gak kalau penelitiannya bukan di koperasi? Ternyata kampus mengizinkan penelitiannya diluar koperasi, entah itu di perusahaan swasta, BUMN atau dimana saja, tetapi tetap membuat sebuah penelitian minor tentang Koperasi. Jadi bisa dibilang kita harus membuat dua penelitian sekaligus jika memang ingin meneliti diluar koperasi. Hmm tentunya ini lebih menantang lagi. Cocok untuk mereka yang memang niat dan senang dengan kegiatan penelitan.

Seberapa cepat biasanya mahasiswa bisa menyelesaikan skripsinya? Duh, ini pertanyaan yang agak susah dijawab, karena faktor-faktor yang menentukannya menurut saya cukup banyak, bisa dibikin skripsi lagi malah dari pertanyaan itu. Haha.

Jawabannya sebenarnya relatif depends on many factors. Kalau normalnya sih 5-6 bulan ya, bahkan teman sejurusan saya yang seangkatan, kemarin baru saja selesai sidang skripsinya, yang berati doi bisa selesai dalam waktu kurang dari lima bulan. Kurang cepat apa coba. Dan setelah melihat fenomena yang terjadi (ceileh, bahasa skripsi banget nih), saya pribadi menyimpulkan sebenarnya ada satu orang yang menjadi faktor kunci dalam menentukan cepat atau tidaknya seseorang menyelesaikan skripsinya, dan dia adalah diri kita sendiri. Jawabannya mainstream sekali ya, haha. Tapi ini jujur based on true story and myself experience sih, terlepas dari faktor pertolongan Allah SWT ya, yang Maha Kuasa dapat melakukan apapun untuk mempermudah skripsi kita, tapi kalau kitanya sendiri tidak mau ditolong, ya percuma juga. So, in the end, it depends on you!

Seperti biasa pesan-pesan untuk menyemangati diri saya sendiri dan teman2 seperjuangan, mari selesaikan tugas akhir ini, jangan biarkan bpk/ibu dosen pembimbing terus menunggu di meja kerjanya, jangan biarkan faktor M (baca:malas) menjadi penghambat kita (walaupun ini yang paling susah) karena pada akhirnya penyesalan di kemudian hari lebih menyakitkan, bayangkan dimasa depan kita hanya bisa berpangku tangan dan mengulang-ulang kalimat 'seandainya dulu.....’ yang sayangnya tidak bisa kita kembalikan.

Ah mainstream lagi yi pesan-pesan nya :p hahaha
Udah ya, mau nyekrip dulu. See you on top, dude :))
               

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer