Akhirnya, Bambarano dan Matantimali (Bagian 2)

1 comment

Oke melanjutkan cerita sebelumnya. Sekarang judulnya ngga pake part-2 lagi, tapi "bagian 2" biar lebih Indonesia dan gak mainstream hehe. 

Yap, tempat kedua yang alhamdulillah sempat saya kunjungi saat pulang kemarin adalah Matantimali. Saat nge-post foto disana di IG, banyak teman (yang bukan orang palu tentunya) bertanya apakah saya mengambil foto di luar negeri? ada yang bilang mirip sebuah tempat di Turki haha. Gak bro, itu bukan turki, itu hanya ada di Sulawesi Tengah ;) *ehem* .

Matantimali ini cukup dikenal sebagai salah satu spot para layang terbaik di Asia. Tidak percaya? silahkan googling sendiri. Matantimali sebenarnya bukan gunung, lebih tepatnya adalah nama desa yang berdiri disekitar puncaknya. Sebuah tempat dimana kita dapat melihat panorama kota Palu yang begitu indah tanpa  harus bersusah payah mendaki terlebih dahulu. Dengan ketinggian sekitar 1500 mdpl, kita bisa melihat dengan jelas teluk palu yang biru berpadu dengan gunung-gunung yang berjajar mengelilingi kota. 

Sebenarnya sudah cukup lama, seingat saya sejak lulus SMA ingin berkunjung kesana namun selalu ada saja halangannya, dan alhamdulillah kemarin tercapai juga akhirnya!

Matantimali mulai populer lagi setelah banyak instagrammer hits yang mengambil gambar dengan spot berbeda disana (thanks buat mereka!), dan karena foto2 luarbiasa itu akhirnya banyak orang berdatangan untuk menyaksikan sendiri tempat-tempat tersebut. Lagi-lagi efek sosial positif sosial media yang patut ditiru. Promosikan daerah dengan cara yang unik dan lebih elegan, sekalian eksis pula. 

Perjalanan ke Matantimali membutuhkan waktu kurang lebih satu jam dari kota Palu. Ada beberapa jalur alternatif, saat itu kami menggunakan jalur dari arah Palu Barat tepatnya desa Porame, yang dulu sempat terkenal sebagai daerah pemandian air panas terbaik se-kota Palu. Setelah sampai di Desa Porame, jalan menuju ke Matantimali kebanyakan menanjak dan berliku-liku. Kita akan melewati beberapa sawah-sawah kering, sungai (yang juga kering) dan beberapa rumah warga. Setelah beberapa menit perjalanan menanjak, jangan lewatkan pemandangan di sisi kiri jalan dimana tebing-tebing nan tinggi berpadu dengan pepohonan hijau yang memanjakan mata. Saya rasa (sekali lagi), Matantimali ini cocok untuk mereka yang belum pernah mencoba naik gunung tapi ingin melihat pemandangan khas gunung tanpa capek-capek nanjak.

Sebaiknya berhenti untuk beristirahat sejenak, istirahatkan tubuh dan kendaraan, karena jalanan yang berliku (dan bersebelahan dengan jurang!) biasanya membuat pusing apalagi jalanan berliku nya cukup banyak. Saran saya jangan menggunakan motor keluaran tahun 2000 kebawah atau tanpa persiapan yang baik karena ada banyak jalan tanjakan yang membutuhkan tenaga mesin motor yang handal. 

Sebelum mencapai puncaknya, saya cukup surprise dengan adanya desa yang berdiri disini. Sore itu banyak anak-anak bermain dengan anjing nya dan orang-orang tua yang baru selesai dari ladang. Disini juga ada kantor kecamatan Penembani, bayangkan, kantor kecamatan. Ternyata saat kami tiba di atas, juga berdiri rumah-rumah warga yang jika dilihat sepintas mereka mayoritas beragama kristen. Ini bisa dilihat dari satu patung salib yang cukup besar berdiri disekitar rumah-rumah warga disini. Sangat disayangkan sebenarnya, apalagi patung ini juga sempat jadi pro-kontra. Ya sudahlah..

Ada kantor kecamatan (beberapa saat sebelum puncak)
Patung Salib berdiri di sekitar Puncak
Puncak matantimali punya banyak spot yang digunakan untuk menikmati panorama dengan menawarkan sudut yang berbeda. Misalnya dari tower, disini lebih tinggi lagi dibanding spot para layang, dan teluk palu terlihat sedikit tertutup salah satu gunung di gawalise. Ada juga spot rumah pohon, dimana menjadi salah satu spot yang populer untuk foto. Sebuah pondok sederhana yang dibuat dari kayu yang dibangun diatas pohon, agak serem sebenarnya, tapi banyak juga yang nekat foto dari atas rumah pohon ini (termasuk kami :D), padahal jurang begitu tinggi menganga. Pengalaman foto disana agak sulit dilupakan karena cukup deg-degan kalau melihat kebawah. Sayangnya, karena populernya spot rumah pohon ini, tanaman jagung yang berada di sekitarnya rusak karena dilewati dan ditarik oleh pengunjung yang ingin turun. Jangan salah, untuk foto disana butuh perjuangan menuruni ladang jagung yang cukup ekstrem. Salah pijakan sedikit, bisa fatal.
Maafkan kami pak Tani :(

Sayangnya, saya dan kawan-kawan tidak menemukan bunga edelweiss disini yang dulu katanya sempat banyak tumbuh disekitar sini, mungkin sudah hilang sejak lama. Karena keindahan dan eksotiknya pemandangan yang ditawarkan Matantimali, mulai banyak rumah-rumah sederhana yang dibangun, dan akan semakin ramai apalagi saat pertandingan atau latihan olahraga para layang digelar. Semoga suatu saat nanti bisa menyempatkan diri lagi berkunjung kesini. Menikmati kota kelahiran dari sudut pandang berbeda. Amin
After sunset 

Travel will always give you new perspective, and broaden your horizon~ 


#VisitSulawesiTengah

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.