From Ciremai, West Java Highest Mountain

1 comment
Kalau dilihat-lihat, beberapa tulisan terakhir, saya baru sadar ternyata ceritanya lebih banyak tentang perjalanan mendaki gunung. Entah mengapa meski kaki pegal, beban berat dan perjalanan yang tidak mudah, selalu saja perjalanan hiking mountain selalu bisa bikin kita merasa ingin kembali nanjak. Setiap orang mungkin memiliki kesenangan tersendiri dengan kegiatan mendaki yang terkadang sulit dijelaskan, namun bagi saya mendaki gunung bukan sekedar perjalanan biasa, karena selain mendapatkan point of view baru  dari tempat-tempat tertinggi, saya juga menemukan banyak life lessons yang mungkin tidak akan didapat dengan hanya berdiam diri di zona aman.

Seperti perjalanan saya kali ini di puncak tertinggi Jawa Barat, Taman Nasional Gunung Ciremai yang sudah sangat dikenal itu. Ambisi untuk mencapai puncak tertinggi Jawa Barat sudah lama dipendam, namun baru dapat terealisasikan saat-saat sekarang. Meski misi sebelumnya –mencapai puncak gunung Slamet –gagal, tidak menjadi alasan untuk berhenti mencicipi alam Indonesia yang tiada duanya. Dan cerita perjalanan menuju Ciremai pun dimulai.

Day 1 (Jatinangor – Terminal Maja – Pos 5)

Pagi itu matahari bersinar cerah, menambah suasana hangat Jatinangor yang sedang ramai di hari libur panjang. Kami, empat pendaki amatir berdiri di trotoar jalan, menunggu angkutan yang akan membawa kami menuju Cikijing, dan kemudian nanti berganti angkutan menuju Terminal Maja, di Kab. Majalengka. Namun, angkutan Elf ke Cikijing yang lewat selalu penuh dan berdesak-desakan. Karena sudah agak siang, akhirnya dengan modal jempol, kami berhasil menumpang sebuah truck pasir menuju daerah Buah Dua, Sumedang. Hujan, panas dan supir truck yang ngebut semuanya dinikmati dengan ceria. Masuk di daerah Sumedang, dari atas truck terlihat  gunung Tampomas yang gagah berdiri di bagian tenggara. Semoga suatu waktu dapat menyempatkan mendaki Tampomas. Sekitar 2 jam perjalanan, kami tiba di buah dua, tak lupa kami berterimakasih kepada pengendara truck yang sudah berbaik hati memberikan kami tumpangan.

Selanjutnya kendaraan yang kami gunakan sedikit lebih nyaman dari sebelumnya. Setelah dua kali berganti elf, kami tiba di terminal Maja sekitar jam 2 siang. Dari sini kami mengisi perut dan memastikan semua perlengkapan telah lengkap, sebelum menuju pos pertama jalur apuy. Oh ya, menurut informasi, ada 4 jalur menuju Gunung Ciremai, salah satunya adalah Jalur Apuy (dimana menurut orang2, adalah jalur yang cocok untuk pendaki pemula, meski kenyataanya tidak demikian -__-). Karena alasan itulah, senior sekaligus partner pendakian kali ini memilih jalur apuy, “karena kita adalah tim hooray”, begitu katanya.

Dari terminal maja, kami menumpang mobil bak terbuka berwarna hitam, bersama pendaki-pendaki lain yang kebanyakan berasal dari sekitar Bandung. Rintik hujan yang turun siang itu tidak menjadi kendala bagi kami untuk menikmati pemandangan sekitar menuju pos pertama. Hamparan sawah yang berpetak-petak tampak indah dari sini. Sepanjang perjalanan banyak perkebunan warga juga masjid yang terdapat hampir disetiap sudut. 45 menit berlalu, kami tiba di pos pertama yang juga sebagai tempat pendaftaran. Disini sudah banyak pendaki lain yang  berkumpul, ada juga yang baru saja turun.  Diantara pendaki2 itu ada rombongan dari komunitas Pendaki Gunung Indonesia (PGI) yang jumlahnya 60an orang. Terbayang ramainya bagaimana.
Mobil kolbak hitam yang membawa kami ke pos pertama

Suasana di sekitar pos pertama - Jalur Apuy


Sekitar jam 4 lebih, pendakian dimulai setelah sebelumnya berdoa bersama. Kami berjalan bersama rombongan PGI yang juga mulai mendaki. Oh ya, tidak sedikit pendaki perempuan terlihat di jalur pendakian, yang kemudian memberikan supply energi lebih untuk terus berjalan. Haha. Terdengar suara-suara teriakan yang  memberi semangat kepada teman2 dalam rombongannya yang terkadang membuat saya juga ikut bersemangat. Tidak jarang pula kami berpapasan dengan pendaki lain yang hendak turun. Tidak menyangka ternyata akan seramai ini.

Hari sudah gelap, perlahan sayup-sayup suara adzan terdengar dari desa dibawah. Dengan penerangan seadanya dari handphone, setapak demi setapak dapat dilalui. Untungnya banyak dari rombongan yang membawa senter sehingga jalan dapat terlihat jelas. Jarak antara pos satu ke pos lain tidak terlalu sulit, hanya ketika pos dua menuju pos tiga yang sedikit lebih lama. Beberapa kali break dijalan, memperbaiki napas dan membasahi tenggorokan. Sekitar jam 10 malam, kami beristirahat diantara pos 4 dan 5 untuk menyantap makanan yang kami bungkus sewaktu masih di terminal maja siang tadi. Kami berencana akan memasang tenda di pos 5, sebelum goa walet. Namun apa daya, setibanya di pos 5, banyak tenda pendaki lain yang sudah lebih dulu terpasang sehingga tidak ada space untuk kami yang baru saja tiba.

Kedap kedip lampu-lampu rumah dan kendaraan dibawah sana sedikit mengobati kekecewaan karena malam ini tidak ada tempat untuk ngecamp. Disitu kadang kami merasa sedih. Terlalu ramai ternyata tidak terlalu baik juga. Akhirnya, dibawah cahaya bulan dimana malam itu cukup terang, kami beristirahat dengan beralaskan tanah, beratapkan flysheet. Udara dingin yang menusuk sampai ke tulang berhasil membuat gagal untuk tidur. Padahal badan ini sudah sangat lelah karena hampir 7 jam berjalan, Akhirnya malam itu, antara perasaan kantuk dan dingin yang ekstrem, kami menyalakan api kecil untuk sekedar menghangatkan badan. Benar kata pepatah, “Lebih baik menyalakan Api daripada mengutuk udara dingin dan rasa kantuk” (Halah -_-)

Day 2 (Persimpangan Apuy – Goa Walet – Puncak Ciremai)

Pukul 02.30 pagi, karena masih belum bisa terlelap, kami memutuskan untuk terus mendaki daripada diam dan kedinginan. Pendakian dini hari itu berhenti saat tiba di persimpangan antara Jalur Apuy dan Palutungan, jalur lain yang dimulai dari kab. Kuningan. Tidak jauh dari persimpangan itu ada space kosong yang lumayan untuk dijadikan tempat tidur sementara. Ada beberapa rombongan PGI yang juga tiba bersama ditempat ini. Dengan beralaskan matras, tidak menunggu lama tubuh yang terbungkus sleeping bag dapat sedkit beristirahat, meski hanya 2-3 jam. Tidak baik memaksakan tubuh untuk terus mendaki. Rencananya besok pagi, sebelum matahari terbit, summit akan kami lakukan karena dari sini hanya kurang lebih satu jam perjalanan akan tiba di puncak. Yeah!

Meski 4 lapis jaket yang dipakai saat itu plus sleeping bag, ternyata tidak cukup ampuh mengalahkan udara dingin dini hari Sekitar jam 6 pagi, cahaya dari ufuk timur terlihat bergaris garis tertutup awan. Sepertinya sebentar lagi sang matahari akan menampakkan diri. Subhanallah. Dari persimpangan ini, viewnya sudah sangat indah karena sebagian besar wilayah Majalengka dan Kuningan dapat terlihat. Dari sini, sudah terlihat puncak Ciremai yang tampaknya memang sudah begitu dekat.

Summit dimulai sekitar jam 07 pagi. Berbekal kamera dan beberapa botol air, kami memulai lagi pendakian tanpa beban carrier seperti biasa. Carrier sengaja kami tinggal di persimpangan tadi, selain untuk mengurangi beban, juga karena kami akan melewati simpang apuy lagi ketika turun nanti. Kurang lebih satu jam, dengan trek bebatuan yang cukup terjal, kami melewati goa wallet dimana banyak pendaki yang memasang tenda disekitar goa. Pagi itu suasana di goa wallet cukup ramai, dari sini puncak dapat dicapai dalam kurang lebih 30 menit. Semangat mencapai puncak tertinggi di Jawa Barat terus bergelora, hingga akhirnya tidak beberapa lama suara orang-orang diatas mulai terdengar. Ketika sampai di puncak, saya cukup kaget dengan banyaknya manusia di hampir   seluruh bagian puncak. Dari 4 jalur berbeda akhirnya orang-orang ini berkumpul di puncak Ciremai, dengan satu tujuan: menikmati keindahan alam dari atap Jawa Barat.

Puncak Ciremai menawarkan beberapa view berbeda. Mulai dari gunung Slamet di bagian timur yang terlihat mempesona, semburat asap disekitar puncak nya terlihat begitu keren dari atas sini. Kemudian kota Majalengka, Kuningan dan sebagian Cirebon dapat terlihat begitu jelas. Laut Jawa nan biru menambah keragaman pemandangan. Indah, indah sekali. Dan yang paling dominan adalah kawah gunung ini yang eksotis, dengan bau belerang yang khas mengingatkan perjalanan ke Papandayan beberapa waktu lalu. Sesekali kabut menutupi pandangan, awan-awan yang biasanya terlihat tinggi berada sejajar bahkan berada dibawah tempat kami berdiri. Another beautiful sky in here.

CFD Ciremai
Karena ramainya puncak, –yang sebenarnya lebih mirip Car Free Day minggu pagi di Dago, –kami dengan mudah meminta bantuan orang untuk mengambil foto kami berempat. Hampir semua orang disini terlihat antusias mengambil gambar dengan spot yang berbeda-beda. Ada yang berfoto memegang kertas yang bertuliskan harapan, atau untuk orang-orang specialnya, ada yang sambil melompat, menggunakan tongsis, tripod dan sebagainya. Dan tidak terasa sudah 1 jam lebih kami menikmati puncak, matahari mulai meninggi, dan kami bersiap untuk turun dengan membawa pengalaman dan rasa baru.


Jalur Palutungan – Desa Cisantana, Kuningan    

Setelah sarapan, menyeruput segelas kopi panas dan beristirahat sejenak di simpang Apuy-Palutungan, kami kemudian bersiap untuk turun dengan jalur berbeda. Kali ini kami turun melewati Jalur Palutungan dimana nanti akan sampai di desa Palutungan, Kuningan. Sekitar jam 10.30 kami mulai turun dan melewati jalur yang cukup terjal dengan kemiringan hampir 90 derajat. Kebayang bagaimana yang nanjak lewat jalur ini. Pos demi pos kami lewati, sering kami dapati pendaki lain yang baru akan naik. Sepertinya setiap beberapa menit sekali pasti akan berpapasan lagi dengan pendaki lain. Rame kali!

Ternyata perjalanan turun cukup lama karena jalur ini lintasannya memang cukup jauh. Sekitar jam5 sore kami tiba di desa Cisantana, dan beristirahat di salah satu rumah warga. Segelas bajigur panas dan beberapa potong gorengan sangat membantu menghangatkan badan di tengah hujan deras yang turun sejak siang tadi.  Perjalanan ditutup dengan menumpang mobil patroli pamong praja, dan berkeliling di kota Kuningan pada malam hari. Gunung Ciremai tampak sangat tinggi dan gagah dari bawah sini, dan perasaan tidak percaya sempat terbesit, bahwa tidak disangka beberapa waktu yang lalu kami berada di atas puncak sana.
#DiscoverIndonesia
Partner




Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.