Trip to Slamet Mt

Leave a Comment
Sebuah broadcast blackberry messenger dari seorang teman masuk pagi itu. Informasi tentang open trip ke gunung slamet –gunung tertinggi kedua di pulau Jawa setelah Mahameru –yang kemudian mengantarkan  saya pada sebuah perjalanan dengan life lessons yang mungkin harganya tidak sebanding dengan paket open trip ini. Awalnya tidak begitu tertarik, selain karena harinya yang begitu dekat dengan jadwal masuk kuliah semester baru, juga minat teman yang mau ikut sangat sedikit. Setelah diskusi, mencari informasi, dan tentunya melihat budget yang tersedia, akhirnya saya memutuskan untuk ikut, meski hanya berdua yang berangkat.

Malam itu, untuk pertama kalinya saya merasakan bagaimana sensasi menumpang bus berlabel ‘Goodwill’. Bus ekonomi yang banyak direkomendasikan orang yang ingin pulang kampung lewat jalur utara. Dan ternyata memang benar, bus ini tergolong cepat, cukup murah, tanpa ngetem tapi tetap menyajikan sensasi mual dan mabuk setelah perjalanan. Recommended for beginner. Setelah kurang lebih enam jam perjalanan dari nangor, kami tiba di Slawi, salah satu kecamatan di Kabupaten Tegal.  Pertama kali menginjakkan kaki disini, kami langsung disambut tukang ojeg yang menawarkan jasanya dengan bahasa Jawa. Hawa panas yang dibawa angin malam tidak membuat saya heran. Ingatan sewaktu pertama kali datang ke Cirebon kembali datang. Hawa panas yang sama.

Rencananya kami berdua akan dijemput Fauzi, teman yang tinggal disekitar sini dan akan ikut ke Slamet. Tapi mungkin karena kami tiba disana saat jam yang kurang tepat–sekitar jam 12 malam—akhirnya rencana untuk tidur nyaman dirumah teman malam itu gagal. Dan sebuah masjid sekolahan didekat terminal menjadi pilihan terakhir untuk beristirahat. Ya, kata istirahat disini tidak berarti tidur. Mungkin lebih tepatnya bisa dibilang ‘tiduran’. Selain suara nyaring sekelompok nyamuk yang mengganggu, juga takut akan teguran dari penjaga sekolah menjadi penghalang untuk tidur normal malam itu.  Dan benar saja, menjelang subuh cahaya senter dari penjaga sekolah membuat kami benar-benar terjaga. Kami diminta bersiap-siap pergi sebelum para guru datang. Setelah shalat subuh, kami bergegas kembali ke terminal dan menunggu Fauzi lagi. Selama menunggu inilah saya mendapat salah satu pelajaran bahwa hidup adalah tentang berjuang. Melihat bagaimana perjuangan para tukang ojeg yang sedari subuh sudah siap sedia menunggu penumpang yang akan turun dari bis-bis disini. Ketika ada bus berhenti depan terminal, mereka kemudian dengan begitu cekatan menghampiri penumpang satu persatu menawarkan jasa ojegnya. Terkadang mereka harus rebutan dengan supir taksi dan menggerutu dengan bahasa jawa ketika penumpang tersebut lebih memilih menggunakan taksi. They struggle. Dan melihat perjuangan mereka subuh itu berhasil membuat saya malu.

Tukeng Ojeg Super
Setelah sekitar dua jam menunggu, seorang teman lagi, Wildan datang menjemput kami dengan motornya. Dari atas motor ini saya melihat sepintas bagaimana kehidupan warga slawi di pagi hari. Anak anak yang berangkat sekolah yang hampir semuanya bersepeda, yang sepertinya sudah menjadi tradisi yang sulit dihilangkan di tanah Jawa. Tidak beberapa lama tibalah kami di rumah Wildan. Disini kami beristirahat sambil menyiapkan kembali perlengkapan dan logistik yang belum sempat didapat. Obrolan santai sembari menikmati kopi panas menghiasi pagi itu. Jika tidak ada halangan, kami berempat akan berangkat bersama ke meeting point pendakian di daerah Guci. Disana para pendaki dari beberapa daerah lainnya seperti Jakarta, Jogja, Purwokerto, dan tuan rumah Tegal, berkumpul sebelum mendaki bersama.

Perjalanan ke Guci

Dari Slawi ke Guci menghabiskan waktu kurang lebih sejam dengan sepeda motor. Selama perjalanan, pemandangan di kiri kanan selalu membawa kejutan. Deretan petak-petak sawah dan pepohonan hijau hampir selalu ada. Meski harus memegang dua carrier yang cukup berat, namun melihat keadaan sekitar sini dan menghirup udara segarnya membuat beban terasa sedikit lebih ringan. Hawa dingin mulai terasa saat kami memasuki kawasan wisata Guci. Disini merupakan salah satu dari 4 rute untuk mendaki Gunung Slamet.  Menurut infromasi, semua jalur pendakian Slamet sebenarnya sedang ditutup. Tapi entah kenapa trip bareng kali ini mendapatkan izin dari organisasi pecinta alam setempat. Awan mendung mulai menghiasi langit ketika kami tiba di Guci. Gunung slamet yang menjadi tujuan kami kini telah terlihat. Kabut putih pekat sedang menutupi puncaknya. Kami berhenti dan singgah di rumah salah satu teman Fauzi, di sebuah perkampungan sebelum pintu masuk wisata pemandian. Oh ya, di Guci ini terkenal dengan wisata pemandian air panas nya. Di rumah ini kami menitipkan motor, menunggu pendaki lain, dan juga meminjam peralatan hiking lain. Bang Jalil, pemilik rumah ini juga seorang pendaki yang telah memiliki jam terbang cukup banyak. Semeru, Merbabu, Ciremai dan gunung-gunung tinggi lain hampir semuanya pernah ia datangi. Keren!

Di rumah bang Jalil ini kemudian saya belajar banyak. Rumah yang sangat sederhana dengan ukuran tidak lebih dari 6x4 m yang ia tinggali bersama istri dan satu orang anak. Saat pertama kali tiba disana, kami langsung disuguhi teh panas yang maniiiiis sekali. Berbeda dengan teh manis yang biasa disajikan di daerah Jawa Barat yang lebih hambar. Sembari menunggu teman lain yang datang, kami bercerita tentang mitos-mitos gunung slamet dan gunung-gunung lain di Indonesia. Hampir ketiduran, sampai salah seorang teman mengabarkan kalau pendaki lain telah sampai di Guci. Kami kemudian berangkat ke meeting point yang berada di lokawisata. Dan darisinilah starting point pendakian. Gerimis yang turun tak menghalangi niat kami untuk bergerak. Sore itu sekitar pukul 3 pendakian ini pun dimulai.



Starting Point...

Belum sampai pos 1, kami berempat yang start duluan memilih untuk menunggu yang lain karena tidak ada dari kami yang mengenal treknya. Bukan hal yang keren kalau sampai tersesat. Lagipula di alam bebas seperti ini sifat sotoy alias sok tahu harus dibuang jauh-jauh. Tak lama, teman-teman yang lain datang. Perjalanan menuju pos 1 tidak mengalami hambatan berarti. Meski treknya tergolong menantang ditambah hujan gerimis yang membasahi tanah. Hari mulai gelap saat kami melanjutkan perjalanan ke pos 2. Treknya pun tak jauh beda. Hampir tak ada bonus (baca: turunan) yang kami dapat. Tentu ini membuat stok energi cepat berkurang. Beberapa kali harus break demi menjaga kestabilan. Ketika tiba di pos 2, langit sudah gelap. Bulan bersinar terang sekali bahkan karena cahayanya bisa membuat kami tak perlu menggunakan senter lagi. Kata mereka, pendakian kita direstui tuhan. Ya, semoga saja. Tapi masalah kemudian mulai datang saat jumlah kami kurang 4 orang dari seharusnya. Menunggu mereka yang berjam jam belum juga tiba membuat sebagian lain tak sabar melanjutkan perjalanan ke Pos 3. Tapi kami memilih menunggu sebentar lagi, karena salah satu dari ke empat orang yang belum tiba itu adalah Wildan, teman kami yang bertubuh subur dengan beban carrier lumayan berat yang ia bawa... 

Di alam bebas seperti ini, sikap egois harus dibuang jauh-jauh. Bukan semata-mata mencari ambisi pribadi. Kami memutuskan untuk turun, tidak melanjutkan perjalanan sampai puncak. Dalam perjalanan turun, perasaan kecewa sempat hadir. Tapi dari pengalaman ini saya belajar bahwa kita tidak akan selalu mampu mencapai puncak disetiap perjalanan, terkadang kita harus ikhlas untuk turun, balik arah dan mengatur rencana kembali. 

Seperti biasa, perjalanan turun selalu lebih cepat. Kami bertemu wildan, dkk yang ngecamp diantara pos 1 dan 2. Untunglah mereka baik-baik saja. Setelah tiba di start point, kami langsung menuju wisata pemandian air yang tersohor di Guci ini. Rasa lelah hilang sekejap saat tubuh ini terendam air panas yang konon berkhasiat itu. Kadar panasnya tidak jauh berbeda dengan yang ada di pemandian Cipanas, Garut. Syaraf-syaraf yang tegang kembali rileks dan rasanya tidak ingin beranjak dari kolam ini. Sebuah aktivitas pengalihan kekecewaan yang sangat pas. Sore itu kami kembali ke rumah bang Jalil, mengeringkan badan dan menyeduh teh (yang tentunya sangat manis itu) lagi. Dirumah ini yang meski sederhana, bagi kami adalah tempat meneduh yang begitu hangat ditengah hujan deras yang turun sore itu. Disini kami menginap sehari lagi dan menikmati keindahan tersembunyi Guci yang memang belum banyak diketahui orang. Besok paginya kami berkunjung ke goa sigeong yang eksotik sekaligus mistis. Ukuran Goa ini tidak begitu besar, dan lokasinya dibalik air terjun. Di goa ini kita juga bisa menikmati sauna karena hawa panasyang keluar dari air disekitarnya. Disekitar goa ini, banyak pemandangan gunung dan sawah nan hijau. Landskap yang indah ada dimana-mana, semua spot rasanya layak untuk diabadikan. Rasanya hari itu adalah hari senin terbaik dalam beberapa bulan terakhir.


Akhirnya, panggilan kuliah dan kerjaan memaksa kami untuk kembali ke realita. Setelah berpamitan dengan bang jalil sekeluarga, kami izin pulang kembali ke Jatinangor. Ucapan terimakasih tak henti kami ucapkan kepada keluarga sederhana ini atas excellent service mereka kepada kami selama disana. Saya pribadi banyak belajar dari keluarga ini. Terimakasih untuk pelajaran berharga tentang bagaimana memanusiakan manusia. Senang rasanya memiliki keluarga baru lagi. Saat-saat nonton tv, sharing tentang pengalaman mendaki gunung, dan momen lainnya mungkin akan sangat sulit untuk dilupakan. Kami pun kembali, dengan armada bus yang sama dengan pikiran yang dipenuhi dengan keindahan alam, dengan mulut yang tak henti mengucap syukur.  Indeed, perjalanan selalu membawa kejutan :)
   
Bang jalil cs

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.