Dua Puluh dan Cerita Ramadhan

1 comment

Pagi ini cerah sekali. Jalanan tampak sepi. Mungkin sebagian masih terlelap setelah menikmati santap sahur di subuh tadi. Matahari perlahan mulai naik yang bersembunyi sedari tadi di balikgunung geulis. Apartemen  yang menjulang tinggi dikelilingi burung yang berterbangan menghiasi udara. Sambil membalas ucapan selamat ulang tahun dari keluarga dan teman2, terlintas sebuah pertanyaan dikepala: “Sudah 20 tahun kah saya?”

Tersadar untuk menerima realita bahwa umur bertambah tua dan bukan lagi anak belasan tahun. Sudah 20 tahun men. Kata orang 20 tahun adalah usia transisi menuju kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan ‘orang dewasa’ yang terlihat menyenangkan namun sebenarnya tak mudah dijalani (iklan kartu perdana?).  Masalah dan tantangan ‘org dewasa’  yang juga tentu berbeda level problem anak remaja. Lebih kompleks dan complicated.

Oh iya, hari ini adalah 14 ramadhan (versi Muhammadiyah) 1435 H. Ramadhan ke-3 kalinya tanpa rumah, rumah keluarga maksudnya. Alhamdulillah , bersyukur masih bisa bertemu ramadhan tahun ini. Bulan yang sangat indah, penuh berkah  dan ampunan. Bulan ramadhan adalah momentum bagi kita untuk membunuh bad habit yang selama ini kita manjakan. Menumbuh dan mengembangkan kebiasaan baru yang lebih bermanfaat. Di bulan ini ada satu malam dimana kalau kita beribadah pada malam itu pahalanya sama dengan beribadah 1000 bulan. Wow! This is called, Lailatul Qadr. Semoga kita berhasil mendapatkan bonus luar biasa dari Allah swt ini, amin.

Setiap kali bulan ramadhan datang, semua orang bergembira, dan sebagian bersedih. 
Sedih karena takut ramadhan kali ini menjadi ramadhan terakhir dalam hidupnya, atau sedih karena puasa kali ini jauh dari keluarga, jadinya menyiapkan sahur dan berbuka sendirian, terutama anak kosan yang harus siapin menu sahur dari malam harinya. Sekarang baru terasa, kalau keluarga memang tidak tergantikan, dengan apapun juga. #Hiks

Jadi teringat ramadhan di waktu kecil : jalan-jalan subuh, sepedaan, main gasing, tamiya, mandi di pantai siang hari dan akhirnya berbuka jam 12. Haha. Suka senyum sendiri kalau ingat jaman itu. Hidup lebih bebas tanpa beban. Lepas. Tapi tetap saja, puasa sekarang lebih seru dan berwarna karena ada piala dunia dan pilpres tentunya. Baru kali ini laga piala dunia kalah saing dengan debat capres yang lebih menarik banyak penonton (:D)

Sahur dan berbuka bersama 'keluarga ke-2' bisa sedikit banyak mengobati kerinduan. Masalah demi masalah yang harus diselesaikan di kopma tercinta juga perlahan dapat membantu menambah stok optimisme di dada. Masalah yang tidak biasa. Membutuhkan energi yang lebih banyak dari biasanya.
Dan bulan ramadhan, piala dunia, pilpres dan semua yang 'menggembirakan' itu ada di bulan juli. July is special, right? :))


Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

1 komentar:

  1. wah, baca cerita ini jadi ingat puasa waktu masih SD..
    masih nakal banget deh pokoknya..
    kalau di luar rumah ngak puasa, ntar pas nyampe di rumah pura2 puasa.. hahaha

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.