Belajar dari Gua Pawon

1 comment
Belum lama ini saya dan teman-teman dari IYCCA (Indonesian Youth Cultural and Creative Alliance) berkesempatan mengunjungi sebuah situs arkeologis di daerah Padalarang, bukan untuk eskavasi dan mencari benda-benda purbakala, melainkan hanya sekedar jalan-jalan, gain an experience dan memenuhi rasa ingin tahu tentang tempat dimana ditemukan kerangka manusia purba yang konon katanya adalah nenek moyang orang sunda. Gua Pawon namanya. Bukan Rawon ya.

Dari nangor, perjalanan kesana bisa sampai 2 jam atau lebih, cukup melelahkan ditambah harus berdempetan didalam mobil. Selama perjalanan, boleh banget nyuri waktu buat tidur, apalagi dijalan tol yang pemandangannya yang terkadang monoton alias itu-tu saja.

Hari itu kami ditemani pak Lutfi, arkeolog dari Balai Arkelogi Bandung. Beruntung rasanya bisa jalan-jalan di gua yang gelap dan sepi ini dipandu langsung sama archeolog expert seperti pak Lutfi. Sebaiknya kalau mau kesini, cari warga sekitar yang bisa dijadikan guide, selain karena memang gua nya cukup gelap dan terkesan seram, juga untuk menghindari dari resiko tersesat.

Sebelum masuk ke dalam, terlebih dahulu pak Lutfi yang saat itu ditemani rekannya, pak Zulkifli, memberikan materi awal tentang asal mula gua pawon. Tentang manusia, hewan, dan tumbuhan yang diperkirakan hidup disini sejak 9500 tahun silam.  Bagaimana pengalaman ia dan timnya sewaktu melakukan penelitian disini. Bagaimana filosofi kerangka manusia pawon yang ditemukan dalam posisi melengkung, persis posisi bayi saat di rahim ibu. Teman-teman lain pun menyimak dengan antusias dan memberikan pertanyaan mengenai sejarah gua ini, walau ada juga yang bertanya dan menawarkan diri untuk ikut dalam proyek/tender eskavasi yang bisa dijadikan lahan bisnis. Hadeh -_-

Cukup sedih juga ketika mendengar kalau tempat-tempat seperti ini masih jauh dari perhatian pemerintah daerah. Ditambah lagi perilaku masyarakat sekitar yang tidak aware akan potensi dari situs arkeologis seperti disini. Setelah mendengarkan sharing dari pak lutfi, perjalanan yang ditunggu-tunggu pun dimulai. Belum lama berjalan kami langsung disambut oleh segerombolan monyet hutan, yang kata Pak Lutfi mereka adalah monyet spesies terakhir yang tidak punah oleh manusia pawon yang senang berburu pada masa silam. Wuuuh..

Masuk ke dalam gua, bau kotoran kelelawar akan sedikit menganggu perjalanan. Sama seperti gua2 lainnya, di dinding2 dan atap gua banyak stalaktit yang mengeluarkan cairan. Setelah melewati lorong yang gelap nan seram, kami bertemu sebuah tempat yang dipagari,sepertinya sedang dilindungi, didalamnya ada rangka manusia yang tadi baru saja diceritain sama pak arkeolog. Rangka yang dipamerkan digua ini bukan rangka aslinya, hanya duplikasi untuk kepentingan wisata. Tidak jauh dari tempat rangka tadi, ada jendela gua yang cukup besar, dimana view dari sini sangat keren. Katanya, manusia pawon dulunya mendesain gua ini seperti rumah, ada jendela nya pula. Nah view dari jendela gua ini yang keren: hamparan sawah yang hijau, pepohonan rindang and rumah-rumah warga terlihat jelas sekali. berasa seperti manusia pawon aslinya. Hehe

Manusia Pawon modern
Satu tempat yang ga kalah keren juga ada disekitar sini. Stone Garden namanya. Dari namanya udah ketauan kalau ini tempat ini adalah taman dimana banyak bebatuan. Ternyata stone garden lebih dari itu! Disini bukan cuma batuan-batuan bersejarahnya saja yang menarik, tapi juga pemandangan sekitarnya. Rawa-rawa yang tumbuh tinggi, dengan batu2 yang berdiri tak beraturan, kereta api yang sedang melintas dikejauhan layaknya kaki seribu, menjadi paket lengkap suguhan stone garden yang sayang untuk dilewatkan. Indaaah!

-_-
Rasanya ingin terus disini, menikmati sore yang hangat bersama elang yang terbang kesana kemari seolah mengajak bermain.  Kawasan Gua Pawon tidak hanya menawakan sejarah yang misterius, tetapi juga menyimpan keindahan alam yang layak dinikmati dan dikenang. 

IYCCA Goes to Pawon Cave

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.