Seberapa Pentingkah IPK dimata Mahasiswa?

3 comments


Seorang teman saya menunjukkan secarik kertas berwarna merah yang sudah diremas-remasnya kepada saya dengan wajah kecewa. Kertas itu berisi nilai2 yang dia peroleh selama belajar di semester awal dikampus ini. Di pojok kertas itu tertera angka yang ditebalkan, menunjukkan IP (Indeks Prestasi) teman saya ini. Lantas, kenapa dia berwajah kecewa?

Dugaan saya benar. IP nya ‘pas-pasan’. Parahnya lagi, dia salah satu penerima beasiswa dikampus. Cukup mengherankan juga, orang sepintar dia bisa mendapat IP seperti ini. Padahal belajarnya sudah maksimal, apalagi dia tidak begitu aktif di organisasi.
Berbicara soal IPK, berarti berbicara soal prestasi akademik seorang mahasiswa. Kebanyakan orang akan menilai pintar atau tidaknya seorang mahasiswa adalah dari perolehan IPK nya. Namun, hanya dengan IPK sajakah kita dinilai? Hanya sebuah angka?

Saya cukup prihatin melihat teman saya yang frustasi melihat IP nya yang rendah. Seolah-olah dunia akan kiamat. Padahal itu hanya sementara. Kita masih punya kesempatan untuk memperbaikinya. Yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin.  Saya tahu, kamu pasti benci sama dosen yang memberimu nilai ‘E’ itu. Tapi buat apa menyimpan dendam, hanya akan merugikan diri kita sendiri. Lebih baik kita menginstropeksi diri, kenapa saya bisa diberi nilai seperti itu dari dosen itu. Jadi, jangan dendam lagi ya, bro? :D (pesan ini khusus buat temen saya yang pesimis dengan nilai Ilmu Budaya Dasar nya :p )

Saya sangat setuju dengan statement ketua BEM dikampus yang katanya: IPK bukanlah jaminan seseorang untuk meraih kesuksesan. Dia sendiri merasakan IPK hanyalah ‘piala kosong’ semata. Penghargaan yang tak bernilai. Menurut dia, dunia kerja global saat ini membutuhkan orang-orang yang bukan hanya ber-IPK tinggi, tapi mereka yang mempunyai soft-skill lebih lah yang dibutuhkan. Soft-skill itu sendiri didapat dari kegiatan-kegiatan sosial, seperti berogranisasi, menjadi volunteer dan sebagainya. Benarkah seperti itu?

Kalaupun memang benar, kita tidak boleh begitu saja memandang sepele IPK kita sehingga kita hanya fokus memberikan waktu, uang dan energi kita di Organisasi sehingga kuliah di abaikan. Hei! Kalau bisa seimbang kenapa tidak? Luar biasa dikampus, sukses juga diorganisasi. Iya apa iya? :p

Penting atau tidaknya IPK ini kembali lagi ke pilihan kita masing-masing. Saya ingin mengutip statement dari seorang lulusan Teknik Informatika ITB dengan IPK 4.0 yang mengikuti student exchange ke Daejon University : “Kalau IPK dipandang sebagai hal sepele, masa dengan hal sepele saja kita gagal? Mana mungkin kita layak mendapatkan amanah yang lebih besar jika dengan hal sepele saja sudah gagal?”

Statement diatas saya kutip dari salah satu buku kang furqon. Statement yang merubah pandangan saya tentang IPK. Walaupun saya sadar IPK saya bukan 4, saya tidak akan (lagi) menyepelekan soal IPK.
Semoga tulisan ini bisa menyadarkan teman-teman –terutama kamu bro :D –yang tidak menganggap penting alias menyepelekan IPK nya.
:)

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

3 komentar:

  1. jika hal sepele saja sudah gagal bagaimana dgn amanah yg lebih besar..
    luar biasaaa.. ;)

    BalasHapus
  2. Nice post ganteng ! ;)

    BalasHapus
  3. @thya : Iyaaa nice quote ya mba :)
    @anonim : nuhun mang :)

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.